Semarak Hari Bahasa Isyarat Internasional 2026: Dari Cahaya Biru hingga Ruang Diskusi di Berbagai Daerah

Hari Bahasa Isyarat Internasional (HBII) 2026 diperingati di berbagai wilayah Indonesia melalui beragam kegiatan, mulai dari diskusi, seminar, teater musikal berisyarat, hingga penyalaan lampu biru di ruang publik. Beragam kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mengangkat pentingnya hak asasi manusia bagi Tuli, akses komunikasi dan informasi, serta pemahaman terhadap bahasa dan budaya Tuli.
Tahun ini, HBII mengusung tema āMendeklarasikan Hak Asasi Manusia untuk TuliāĀ
(Declaring Deaf Peopleās Human Rights). Peringatan yang berlangsung setiap 23 September ini juga menjadi momentum penting dalam memperingati 75 tahun berdirinya World Federation of the DeafĀ (WFD) serta 20 tahun Konvensi PBB tentang Hak-Hak Penyandang Disabilitas (CRPD).
Berisyarat Santai Interaktif: Ruang Diskusi tentang Hak TuliĀ

Pada tingkat nasional, Pusbisindo Pusat turut memperingati HBII 2026 melalui Talkshow āBerisyarat Santai Interaktif: Suara Kita, Hak Kitaā, yang diselenggarakan secara hybrid bersama GERKATIN dan PLJ Indonesia melalui Zoom dan YouTube.
Kegiatan ini membahas perkembangan perjuangan dan situasi lapangan mengenai berbagai isu terkait dengan pemenuhan hak Tuli dalam kehidupan sehari-hari. Diskusi ini juga membuka ruang bagi peserta Tuli maupun dengar untukĀ memahami berbagai persoalan tentang hak Tuli secara lebih kritis, perkembangan perjuangannya, serta memperluas kesadaran bahwa pemenuhan hak Tuli membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
Diskusi tersebut menjadi ruang untuk melihat bahwa akses bagi Tuli tidak hanya berkaitan dengan aksesibilitas dalam berkomunikasi, tetapi juga dengan kesempatan untuk memperoleh informasi, berpartisipasi, dan menggunakan hak secara setara.
Moderator bersama narasumber HBII Berisyarat Santai Interaktif
Cahaya Biru, Pesan HBII di Ruang Publik
Semangat peringatan tahun ini juga hadir melalui penyalaan lampu biru di sejumlah daerah. Simbol visual tersebut menjadi bagian dari kampanye kesadaran sekaligus membawa pesan tentang keberadaan, hak, dan akses bagi masyarakat Tuli ke ruang-ruang publik. Dari monumen hingga gedung pemerintahan, sejumlah tempat turut menjadi bagian dari visual peringatan HBII 2026.
Seperti apa semarak cahaya biru di berbagai daerah? Mari simak dokumentasinya!
Monumen Bajra Sandhi - Bali
Bersama Merayakan HBII 2026 di Berbagai Daerah
Rangkaian peringatan tahun ini juga berlangsung melalui kolaborasi dan partisipasi Pusbisindo, GERKATIN, PLJ Indonesia, pemerintah, perusahaan swasta, lembaga pendidikan, komunitas, serta berbagai pihak lainnya di sejumlah daerah.
Kegiatannya beragam, mulai dari seminar, edukasi bahasa isyarat, talkshow, pertunjukan seni, kegiatan komunitas, hingga ruang interaksi antara masyarakat Tuli dan masyarakat luas. Beragam kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mengenalkan bahasa dan budaya Tuli sekaligus membangun pemahaman mengenai pentingnya komunikasi yang aksesibel.
Penasaran seperti apa momen perayaannya? Yuk, simak dokumentasi HBII 2026 dari berbagai daerah berikut!
Foto bersama perayaan HBII di Bali
Semarak HBII 2026 menunjukkan bahwa pesan tentang hak Tuli dan pentingnya Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) dapat hadir melalui berbagai ruang. Dari diskusi dan kegiatan komunitas hingga ruang publik yang diterangi cahaya biru, setiap bentuk peringatan menjadi bagian dari upaya memperkenalkan bahasa dan budaya Tuli serta membangun pemahaman tentang pentingnya komunikasi yang aksesibel.
Melalui momentum ini, Pusbisindo bersama berbagai pihak terus mendorong pemahaman bahwa bahasa isyarat merupakan bagian penting dari akses Tuli untuk berkomunikasi, memperoleh informasi, berpartisipasi, serta menjalani kehidupan secara setara.
Mari terus hadir, memahami, dan bersama menyuarakan hak Tuli! Penulis: Stefanus Sinar Firdaus Editor: Michelle Layanto


Komentar